SEKILAS INFO
  • 3 tahun yang lalu / Launching web pondok pesantren putri Darul Fikri Bawen
WAKTU :

Menjadi Tamu Allah

Terbit 21 Juni 2021 | Oleh : admin | Kategori : Pengajaran
Menjadi Tamu Allah

Sungguh kerinduan terbesar seorang muslim adalah bertandang ke rumah Allah. Karenanya ia rela menempuh perjalanan yang sangat jauh, melelahkan, dan biaya yang tidak sedikit, untuk tiba di sana. Namun upaya tersebut tidak selalu berbuah manis, bahkan terkadang  kandas.

Seperti yang terjadi saat ini, tatkala harapan yang besar menjadi tamu Allah demikian membuncah, namun kembali kecewa, setelah Kementerian Agama RI secara resmi mengumumkan pembatalan keberangkatan ibadah haji tahun 2021 bagi jamaah Indonesia.

Beragam spekulasi pun muncul di tengah masyarakat, baik tentang keberadaan dana haji, persyaratan vaksin Covid-19, ketiadaan kuota, hubungan diplomatik, hingga asumsi lainnya. Keputusan yang sangat berat ini, akhirnya berujung dengan semakin jauhnya rasa percaya terhadap penguasa.

Meski Menteri Agama telah menjelaskan, bahwa penundaan keberangkatan haji sebab belum ditetapkannya kuota haji oleh pihak Saudi. Sementara berbagai persiapan baru bisa dilakukan setelah mendapat kepastian kuota, seperti penerbangan, pelunasan biaya perjalanan, dokumen, petugas, dan lainnya. Seluruhnya itu membutuhkan waktu yang panjang.

Tak berapa lama setelahnya, Kerajaan Arab Saudi akhirnya mengumumkan secara resmi kebijakan haji 2021. Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel pada Sabtu, 12 Juni 2021 mengonfirmasi bahwa tidak ada jamaah haji dari luar Arab Saudi dalam pelaksanaan haji tahun ini. 

Dibatasi hanya untuk domestik wilayah Arab Saudi, baik itu warga negara Arab Saudi dan para ekspatriat yang berada di negara itu. Jumlah maksimal hanya 60 ribu jamaah, dengan rentang usia 18 sampai 65 tahun. (Tempo.co, 12/6/2021)

Serupa dengan tahun lalu, hanya warga lokal yang boleh berhaji. Namun ini bukan kali kedua, menurut data The Saudi King Abdul Aziz Foundation for Research and Archives seperti dilansir dari BBC, ibadah haji pernah 40 kali ditiadakan dengan alasan beragam, mulai dari perang sampai wabah penyakit menular.

Maka pengumuman dari Kerajaan Arab Saudi sesaat meredam berbagai isu yang berkelindan. Meski demikian, kekhawatiran masih terus menggelayut benak umat. Mereka membutuhkan informasi yang jelas dan transparasi data. Pasalnya jumlah dana haji yang terkumpul saat ini sangat besar.

Dengan rekam jejak negara mengelola urusan umat yang acapkali meresahkan, maka wajar jika rakyat membutuhkan kepastian. Karenanya  para pihak yang berwenang dan elemen terkait yang bertanggung jawab, hendaknya duduk bersama, dan menyampaikan secara terbuka, mengurai sengkarut spekulasi yang beredar simpang siur di tengah masyarakat.

Ternyata tidak mudah mengurusi ibadah haji. Dibutuhkan sistem yang apik dan tertata rapi untuk memastikan keberlangsungannya. Sedangkan dunia yang berpijak di atas sekularisme, selalu menafikan peran Allah dalam kehidupan sehari-hari, terlihat gamang mengurusi perkara ibadah. Maka tak heran, pada akhirnya tidak mampu mengakomodir perjalanan haji.

Sementara di sisi lain, pandemi berhasil membuat dunia tak berkutik. Akibat keliru mengantisipasi wabah sejak awal, serta berpaling dari solusi Islam, maka akumulasi masalah pun tak mampu lagi dihindari. Pada gilirannya jamaah haji kembali menelan pil pahit, gagal menjadi tamu Allah untuk yang ke sekian kalinya.

Haji di Masa Kejayaan Islam

Haji merupakan salah satu bentuk ibadah yang menampakkan syiar-syiar Allah (sya’airallahu), wajib ditegakkan. Dari sana akan tampak kemuliaan dan keagungan agama Allah. Sebagaimana firman Allah,

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 32)

Karenanya dibutuhkan seorang imam untuk mengurusi keperluan haji. Bukan untuk menangguk keuntungan. Tapi benar-benar sebagai tanggung jawab pemimpin mengurusi umat. Seperti pernah terjadi pada beberapa Khalifah yang mengerahkan energinya untuk haji. Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, diangkat para pekerja untuk melayani para jamaah haji di masjid.

Sedangkan Khalifah Abu Ja’far al Mansur memperluas Masjidil Haram dan mengganti marmer, serta memperbaiki sumur zam zam. Khalifah Al Mahdi membangun pilar dan lampu di sekitar Kabah dan akses jalan untuk kemudahan melaksanakan sa’i.

Zubaidah binti Jafar isteri Harun Ar Rasyid, membangun jalan Zubaydah di sepanjang perjalanan menuju Kabah, dengan 54 pemberhentian yang dilengkapi kolam, tempat peristirahatan dan masjid. Para jamaah yang melakukan perjalanan haji, beristirahat, minum, mandi, mencuci, bahkan berenang di kolam dan sumur tersebut.

Sultan Abdul Hamid II pun menuntaskan perkara umat muslim di Aceh yang pernah dihalangi berhaji, pada masa penjajahan Belanda. Tidak hanya itu, Khalifah pun mencarikan solusi, menyiapkan beragam sarana dan prasarana agar jamaah Aceh bisa sampai di Baitullah.

Sejalan dengan yang demikian, wali atau gubernur di  kota-kota besar seperti Kairo, Baghdad, Damaskus, akan menunjuk Amirul Hajj. Hal tersebut menjadi perhatian utama Khalifah. Tidak tanggung-tanggung, tiga bulan sebelumnya persiapan telah matang. Sehingga musim haji berlangsung laksana muktamar akbar bagi umat dan  saat yang dinanti untuk berjumpa dengan Khalifah.

Mereka akan menyampaikan keluhan, pengaduan dan koreksi pada pemimpin negara secara langsung. Khalifah pun akan menanggapi dan mencarikan solusi, sekaligus  bertanya pada warganya perihal kepemimpinan para wali di wilayah mereka.

Hal ini pernah dilakukan Umar bin Khaththab ketika ia mengumpulkan para wali dari berbagai wilayah pada musim haji untuk meminta pertanggungjawaban mereka. (al-‘Allamah Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzam al-Hukm fi al-Islam, hal. 180).

Selain itu negara pun memiliki peran utama untuk menyelesaikan perkarateknis dan administrasi, termasuk uslub dan wasilah, yang merupakan hukum ijra’i . Apalagi  ibadah haji memiliki waktu yang khusus yaitu Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah, serta tempat yang khusus pula yaitu Makkah, Mina, Arafah, Muzdalifah dan Madinah.

Pengelolaan hukum ijra’i dilakukan sejalan dengan hukum syara’, yang memiliki prinsip dasar dalam pengaturan yakni basathah fi an-nidzam (sistemnya sederhana), su’ah fi al-injaz (eksekusinya cepat) dan ditangani oleh orang yang profesional dari pusat hingga daerah. Mencakup seluruh transportasi, akomodasi, layanan kesehatan hingga jamaah kembali ke tempat asalnya.

Bahkan Khalifah pun membuka opsi perjalanan darat, laut dan udara dengan biaya yang terjangkau, dengan prinsip ri’ayatu syu’un al-hujjaj wa al-‘ummar (mengurus urusan jamaah haji dan umrah). Pada masanya, Sultan Abdul Hamid II membangun transportasi massal dari Istambul, Damaskus hingga Madinah untuk mengangkut jamaah haji.

Khalifah ‘Abbasiyyah, Harun ar-Rasyid, bahkan membangun jalur haji dari Irak hingga Hijaz (Makkah-Madinah). Kemudian ia menyediakan beberapa pos layanan umum untuk logistik, termasuk dana zakat bagi yang kehabisan bekal. Pemerintah kala itu mengerahkan usaha yang luar biasa untuk pelaksanaan haji. Fakta seperti ini sulit kita temukan di masa sekarang.

Semakin mudah berhaji di masa itu, sebab tidak diperlukan adanya visa. Seluruh wilayah pelaksanaan haji, termasuk dalam kekhilafahan. Kaum muslim bebas pergi dari satu tempat ke tempat lain. Visa hanya berlaku untuk kaum muslim yang menjadi warga negara kafir, baik kafir harbi hukman maupun fi’lan. Sekat semu nasionalisme justru memecah belah umat dan membuat biaya berhaji menjadi tinggi.https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-4162607592094062&output=html&h=280&slotname=4311838906&adk=231956395&adf=1913461552&pi=t.ma~as.4311838906&w=610&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1624319123&rafmt=1&psa=1&format=610×280&url=https%3A%2F%2Fsuaraislam.id%2Fmenjadi-tamu-allah%2F3%2F&flash=0&fwr=0&fwrattr=true&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&adsid=ChEI8PHAhgYQ9Jjr6J2ExqPgARJMAI4vGIhKh_6J62wuFcQfXN0wHP1WbuJyQ3Sa1s9LzB8slf5M0TOJBLC716myRE5uap_UOiS1_0zy-B34rDSq8ff7PA0kqJc6jzwe3g&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMCIsIng4NiIsIiIsIjkxLjAuNDQ3Mi4xMDYiLFtdLG51bGwsbnVsbCxudWxsXQ..&dt=1624319119556&bpp=3&bdt=372&idt=263&shv=r20210617&cbv=%2Fr20190131&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D89d16870e7ff9d51-2255190929c40059%3AT%3D1602938314%3ART%3D1602938314%3AS%3DALNI_MboYioxh5r7jjAsuXMW22JrksmMjA&prev_fmts=0x0%2C728x90&nras=1&correlator=1850045099679&frm=20&pv=1&ga_vid=331637512.1624319120&ga_sid=1624319120&ga_hid=49983578&ga_fc=0&u_tz=420&u_his=8&u_java=0&u_h=768&u_w=1366&u_ah=728&u_aw=1366&u_cd=24&u_nplug=3&u_nmime=4&adx=260&ady=1778&biw=1349&bih=657&scr_x=0&scr_y=0&eid=31060956%2C31061380%2C44744441%2C31061047&oid=3&pvsid=2952352736537857&pem=979&ref=https%3A%2F%2Fsuaraislam.id%2Fmenjadi-tamu-allah%2F2%2F&eae=0&fc=1920&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1366%2C0%2C1366%2C728%2C1366%2C657&vis=1&rsz=%7C%7CoeEbr%7C&abl=CS&pfx=0&fu=128&bc=31&jar=2021-06-21-23&ifi=3&uci=a!3&btvi=1&fsb=1&xpc=dqqIKVpTTV&p=https%3A//suaraislam.id&dtd=3960

Yang terakhir yang tak kalah pentingnya adalah Khalifah memimpin wukuf dan menyampaikan Khotbah ‘Arafah. Hanya ada satu Khotbah saat wukuf, yaitu Khotbah Khalifah, dengan satu bahasa yaitu Bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara. Bukan Khotbah sendiri-sendiri di masing-masing tenda.

Khotbah ini merupakan pesan penting yang akan dibawa pulang oleh jamaah, kembali ke negerinya masing-masing, hingga semakin menancapkan akidah di dada-dada kaum muslim. Merubah gerak umat untuk meninggalkan pemikiran kufur kemudian melangkah seirama menuju kebangkitan.

Indahnya menjadi tamu Allah tatkala Islam diterapkan. Banyak kemudahan. Menjadikan momen haji sebagai dakwah tersendiri untuk menunjukkan kewibawaan Islam ke seluruh penjuru dunia.  Allahumma ahyanaa bil Islam.

SebelumnyaBerdalih Mengganggu Ketertiban, Yunani Penjarakan Ulama yang Dipilih Muslim SesudahnyaSpirit Adam, Motivasi Hidupku Meraih Akherat

Berita Lainnya

3 April 2024

Gaji dan THR

3 April 2024

Malam Qadar

0 Komentar