SEKILAS INFO
  • 3 tahun yang lalu / Launching web pondok pesantren putri Darul Fikri Bawen
WAKTU :

Nusaibah binti Ka’ab: Muslimah Pemberani Menjadi Perisai Nabi

Terbit 4 Juni 2021 | Oleh : admin | Kategori : Siroh
Nusaibah binti Ka’ab: Muslimah Pemberani Menjadi Perisai Nabi

Dalam Perang Uhud (7 Syawal 3 H/22 Maret 625 M), Nabi Muhammad Saw dan para pasukan yang berjumlah 700 orang mengalami kekalahan, padahal kemenangan sudah di depan mata. Pasalnya, pasukan yang berjaga di atas Bukit Uhud  melihat di lembah ada banyak harta rampasan perang sehingga lupa apa yang diperintahkan Nabi Saw, yakni tidak boleh meninggalkan pos di Bukit Uhud. Namun, mereka tetap bergegas menuruni lembah untuk mengambil harta tersebut.

Kondisi seperti itu digunakan Khalid bin Walid (komandan pasukan Quraisy, sebelum masuk Islam) dengan pasukan kafir yang tersisa, memerintahkan pasukannya untuk berbalik kembali dan menyerang pasukan Islam. Sehingga pos di Bukit Uhud bisa direbut pasukan kafir dan membunuh pasukan Islam yang tersisa, termasuk Hamzah paman Nabi Saw.

Kemenangan pun berpihak kaum  kaum kafir Quraisy. Pasukan kaum Muslimin tampak dalam keadaan terjepit dan terdesak. Keadaan tersebut dimanfaatkan pasukan kafir sebagai celah untuk membunuh Nabi Saw. Kaum kafir yang hendak membunuh Nabi Saw adalah Ibnu Qumai’ah.

Dalam kondisi pasukan kaum Muslimin terdesak, tak disangka tiba-tiba datang sosok Muslimah pemberani mengangkat pedang serta menghadang Ibnu Qumai’ah yang akan membunuh Nabi Saw. Dialah Nusaibah binti Ka’ab atau dikenal juga dengan nama Ummu Umarah, seorang Muslimah pemberani tanpa takut mati.

Dengan pedang yang ada di tangannya, tanpa rasa takut Nusaibah pun mengayunkannya ke arah Ibnu Qumai’ah. Walaupun kekuatan dirinya tak sebanding dengan Ibnu Qumai’ah, tapi ia tetap saja menghalau setiap serangan yang datang ke arah Nabi Saw tanpa menghiraukan berapa kali pedang musuh telah melukai tubuhnya. Yang Nusaibah ingat, saat itu bagaimana caranya  menyelamatkan Nabi Saw dari tebasan pedang. Ia tidak berpaling sedikit pun yang terpenting Nabi Saw bisa selamat.

Sebenarnya, saat Nabi Saw memimpin pasukan Uhud, Nusaibah, suami dan kedua anaknya ikut serta. Waktu itu Nusaibah hanya bertugas sebagai perawat tentara yang terluka serta menyediakan minuman saja, kalau suaminya (Ghaziyah bin Amr) dan kedua buah hatinya, (Abdullah dan Hubaib) ikut bergabung dalam pasukan perang.

Namun ketika Nusaibah melihat banyak pasukan kaum Muslimin berlarian dan pergi meninggalkan Nabi Saw, tampak beberapa sahabat lain melindungi  Nabi Saw termasuk Nusaibah, kedua anaknya serta suaminya yang  berdiri di depan Nabi Saw untuk  melindunginya.

Ketika itu, Nabi Saw melihat Nusaibah tidak bersenjata, maka ketika beliau melihat salah satu pasukan mundur, Nabi Saw pun berkata, “Berikan senjatamu kepada orang yang sedang berperang.”  Secepat kilat, Nusaibah pun mengambil pedang tersebut dan segera melindungi Nabi Saw dari gempuran musuh.

Usaha yang dilakukan oleh putri dari Ka’ab bin Amr dan Rabab binti Abdullah bin Habib tersebut tidak sia-sia, semangatnya telah memberi energi positif  bagi pasukan Muslimin. Para pasukan pun kembali bangkit untuk menghindari kematian dari pertempuran, sehingga Nabi Saw dan Nusaibah pun selamat.

Dari peristiwa tersebut, Nusaibah dijuluki sebagai perisai Nabi Saw. Julukan tersebut pantas disematkan kepada Nusaibah sebagai Muslimah pemberani yang menjadi perisai Nabi Saw. Tentu saja karena pengorbanan dan perjuangannya  sangat besar sekali dalam menjaga keselamatan Nabi Saw.

Sampai-sampai ketika Nusaibah terluka, secara khusus, Nabi Saw mendoakannya. Beliau berkata kepada putranya Nusaibah, “Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya. Ya Allah, jadikanlah mereka teman-temanku di surga.” Doa yang sungguh luar biasa karena didoakan oleh orang mulia yang dijamin Allah SWT masuk Surga.

Nusaibah merupakan sosok teladan bagi para Muslimah yang berani ikut berjihad di jalan Allah. Dalam Bai’atur Ridwan di Hudaibiyah, yakni bai’at perjanjian untuk membela agama Allah, Nusaibah merupakan salah satu Muslimah yang turut serta.

Tak hanya ikut  di Perang Uhud saja, Nusaibah pun tampil di Perang Hunain. Bahkan, setelah Nabi Saw wafat dan digantikan oleh Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq, ia ikut serta berjuang ke medan perang  bersama pasukan perang lainnya untuk memerangi nabi palsu (Musailamah al-Kazzab) dan orang-orang murtad dari Islam.

Nusaibah binti Ka’ab merupakah sosok sahabiyah yang senantiasa membela Islam, mencintai Nabi Saw dengan segenap jiwa serta senantiasa melaksanakan semua yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya agar mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. (SI-online)

SebelumnyaIslam itu Eksklusif, Toleran dan Membahagiakan SesudahnyaKiat Hindari Maksiat dari Imam Ibnul Jauzi

Tausiyah Lainnya